2013/01/04

KISAH QARUN DALAM AL-QUR'AN


BAB I
PENDAHULUAN
1.1.      Latar Belakang
Dewasa ini manusia sudah kerap terjebak pada ideologi modern yakni materialisme.Ideologi ini berdasarkan gagasan bahwa materi, harta atau kekayaan merupakan tolok ukur mulia tidaknya seseorang. Semakin kaya seseorang berarti ia dipandang sebagai orang mulia dan semakin sedikit materi atau harta yang dimilikinya  berarti ia dipandang sebagai seorang yang hina dan tidak patut dihormati. Maka di dalam sebuah masyarakat yang telah diwarnai sikap materialisme maka imbasnya adalah setiap anggota masyarakat akan berlomba mengumpulkan harta sebanyak mungkin dengan cara bagaimanapun, baik itu jalan halal, syubhat maupun haram.
Dalam sebuah masyarakat berideologi materialisme semua orang manjadi sangat iri dan berambisi menjadi kaya setiap kali melihat ada orang berlimpah harta lewat di tengah kehidupan mereka.Kehidupan hanya dipandang berdasarkan materi belaka.Sehingga nilai-nilai yang bersifat imaterial dianggap sebagai suatu yang irasional seperti relegiusitas maupun aspek-aspek nilai kemasyarakatan.
Dalam kaitannya dengan materelisme buta, Allah menampilkan sosok Qorun yang diabadikan dalam al-Qur’an sebagai pribadi yang amat serakah dengan harta.Tentu dibalik cerita tersebut ada maksud Allah supaya manusia mengambil himah dibalik cerita Qarun. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Qashash.





Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi.Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya). Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan Karun itu, berkata: "Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hambanya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang- orang yang mengingkari (nikmat Allah)." (QS: Al_Qashash:81-82)
Kalau kita tengok kondisi sekarang ini, maka keadaannya sangat mirip dengan zaman Qarun tersebut.Berbagai kemewahan tokoh kaya, selebritis, artis, olahragawan dan pejabat dipertontonkan di televisi dan media lainnya sehingga masyarakat berdecak kagum dan tentunya menjadi iri dan berambisi ingin menjadi hartawan seperti mereka pula.Sedemikian kuatnya ambisi tersebut terkadang muncullah berbagai kasus mengerikan di tengah masyarakat.Sebut saja munculnya perdagangan bayi, penjualan organ tubuh, pelacuran, korupsi, pencurian, perampokan.Semua dilakukan karena terbuai dengan mimpi ingin secara instan menjadi seorang yang kaya.



Berkaitan dengan persoalan duniawi, sebuah syair indah tertulis di mukaddimah arbain nawawi.
اِنًّ للهَ عِبَادًا فَطَنَا   طَلَقُوا الدُّنْيَا وَخَافُوا الفَتَنَا
نَظَرُوا فِيهَا فَلَمَّا عَلِمُوا  اِنَّهَا لَيْسَتْ لِحَيَّ وَطَنَا
جَعَلُواهَا لُجَّةً وَاتَّخَذُوا صَالِحَ الاَعْمَالِ فِيهَا سَفَنَا

Allah memiliki hamba-hamba yang cerdas
Mereka mencerai dunia dan takut berbagai fitnah
Mereka memperhatikannya lalu ketika tahu
Bahwa dunia bukan tanah air bagi orang yang hidup
Maka mereka menganggapnya sebagai samudra
Dan menjadikan amal shalih mereka sebagai bahtera untuk mengarunginya.[1]





BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Kisah Singkat tentang Qarun
Kisah Qarun dalam al-Qur’an banyak disebutkan dalam surat al-Qashash.



Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: "Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri." (QS: al_Qashash: 76)
Dari ayat tersebut jelas bahwa Qarun merupakan salah satu kaum nabi Musa. Menurut Ibnu Ishak, Qarun adalah pamannya Nabi Musa. Sementara menurut A'masy dan lainnya, dan pendapat ini pendapat masyhur, Qarun adalah sepupu Nabi Musa. Ayah nabi Musa yang bernama Imran adalah kakak dari ayah Qarun yang bernama Yashhar. Baik Nabi Musa maupun Qarun adalah keturunan Nabi Ya'kub, karena keduanya merupakan cucu dari Laway dan Laway adalah putra Nabi Ya'kub, saudara Nabi Yusuf, hanya berbeda ibu. Qarun merupakan leluhur Bani Israil.Hanya, semasa hidupnya banyak memeras dan hidup dari keringat Bani Israil.Karena itu, tidak heran apabila sebagian besar Bani Israil sendiri membencinya.[2]
Pada awalnya Qarun adalah seorang yang sangat shaleh, baik, senantiasa mengikuti perintah Nabi Musa, hanya saja ia hidup dalam kemiskinan. Suatu hari ia datang menghadap Nabi Musa, agar ia didoakan menjadi orang kaya, sehingga ibadahnya bisa lebih rajin, dan dapat membantu saudara-saudaranya Bani Israil. Nabi Musa lalu mendoakannya, dan dengan idzin Allah, Qarun menjadi sangat kaya raya.Ia bukan hanya sukses dalam beternak, akan tetapi juga diangkat menjadi salah satu menteri oleh Ramses II, yang hidup pada saat itu. Cita-citanya untuk menjadi orang kaya kini sudah tercapai.Namun, sayang, kekayaannya telah menjadikannya lupa dan durhaka. Niat awal agar lebih khusyu ibadah dan membantu sesama, tidak pernah ia jalani.
Qorun yang tadinya miskin tapi baik dan shaleh, kini menjadi Qarun yang kaya raya akan tetapi sombong dan durhaka.Saking kayanya, kunci-kunci gudang kekayaannya tidak dapat lagi dipikul oleh mausia, tapi dibawa oleh 60 ekor unta (al-Qashash ayat 76). Qarun pernah pamer kekayaan; ia keluar dengan pakaian yang sangat mewah, di dampingi oleh 600 orang pelayan; 300 laki-laki dan 300 lagi pelayan perempuan. Bukan hanya itu, ia juga dikawal oleh 4000 pengawal dan diiringi oleh 4000 binatang ternak yang sehat, plus 60 ekor unta yang membawa kunci-kunci kekayaannya. Orang-orang yang melihat saat itu, banyak yang terkesima dan kagum. Bahkan, sebagian mereka ada yang mengatakan: "Sungguh sangat ingin sekali seandainya bisa seperti Qarun" (al-Qashash: 79).
Sayang, dia sombong, dia sangat pelit dan dia sangat durhaka.Allah marah, dan seluruh kekayaannya amblas ditelah bumi.Bagaimana kisahnya?Suatu hari Nabi Musa as diperintahkan oleh Allah untuk mengerjakan Zakat.Nabi Musa as lalu mengutus salah seorang pengikutnya untuk mengambil zakat dari Qarun.Begitu sampai, Qarun langsung marah, dan tidak mau memberikan sedikitpun dari kekayaannya.Karena, menurutnya kekayaannya itu adalah hasil kerja keras dan usaha sendiri, tidak ada kaitan dengan siapapun juga tidak ada kaitan dengan Allah atau dewa. Dalam kaitannya dengan peristiwa ini, Allah mencatatnya dalam al-Qashash ayat 78
Qarun berkata: "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku." Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka
Kesombongan dan keserakahan Qarun membuat Allah murka dan pada akhirnya menenggelamkannya beserta kekayaannya dalam perut bumi.

Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi.Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah.Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya)”. (QS: al-Qashash: 81)
Tempat di mana Qarun dan seluruh kekayaannya dibenamkan oleh Allah ke dalam bumi ini, berada di sebuah tempat yang kini dikenal dengan sebutan Danau Qarun (Bahirah Qarun).Tidak ada satupun kekayaan Qarun yang tersisa, selain puing-puing istananya yang sampai saat ini masih berdiri kokoh. Istana ini mengingatkan sekaligus menjadi saksi dan pelajaran bagi ummat sesudahnya, bahwa siapapun yang pongah, sombong dan kikir, nasibnya akan seperti Qarun, hancur, binasa.
Sejak ditenggelamkannya Qarun dan kekayaannya ke dalam bumi, maka sejak saat itulah sampai sekarang, setiap kali mendapatkan harta yang berada di dalam tanah atau di dalam bumi, kita seringkali menyebutnya dengan Harta Karun.
2.2. Hikmah dari  Kisah Qarun
Sosok Qarun adalah kisah nyata yang diceritakan Allah untuk bisa kita tarik menjadi pelajaran.Dalam dunia yang serba materialism ini banyak orang seperti Qarun di sekitar kita.Mereka adalah orang-orang yang terbuai dengan kenikmatan dunia dan melupakan karunia Allah yang dirizkikan kepadanya.
Boleh jadi kita pun terkena sifat qorunisme yang berbahaya ini. Agar kita dapat mengambil hikmah dari peristiwa Qarun ini, maka kita harus senantiasa berpegangan dengan apa yang diwahyukan Allah dan juga yang disabdakan Rasulullah.
Dalam surat al-Qashash yang mengisahkan tentang Qarun, pelajaran yang dapat dipetik adalah bahwa manusia tidak boleh sombong dengan harta benda yang dimiliki dan memamerkannya, tidak boleh membanggakan diri serta tidak boleh iri terhadap harta benda yang dimiliki oleh orang lain.
Kisah Qarun tidak lebih sebuah narasi yang bercerita tentang keserakahan terhadap dunia.Perasaan sombong, angkuh, merasa paling hebat, iri hati adalah gambaran manusia yang menautkan diri pada hal keduniawian.Tak salah jika Imam Ghazali mengibaratkan dunia ini seperti meja yang membentang luas, yang disediakan bagi tamu-tamu yang datang dan pergi silih berganti.Di atas meja tersebut terhampar piring emas dan perak, makanan, dan minuman, yang berlimpah ruah. Tamu yang arif bijaksana makan dan minum tidak lebih dari yang ia perlukan. Sementara orang yang bodoh, dengan rakusnya mencoba membawa piring-piring emas dan perak hanya untuk memamerkan dirinya dan merebut makanan dan minuman yang ada di kanan dan kirinya.[3]
Senada dengan gambaran Ghazali, nabi dalam sabdanya menyebut harta itu hijau, sedap dipandang mata dan manis.
عن حكيم بن حزام قال : سَاْلْتُ رَسُولُ اللهِ صعلم فَاَعْطَانِي ثُمَّ سَاْلْتُهُ فَاْعْطَانِي ثُمَّ سَاْلْتُهُ فَاَعْطَانِي ثُمَّ قَالَ : يَا حَكِيمُ اءنّ هَذَا الْمَالُ خَضِرَةٌ فَمَنْ أَخَذَهَ بِسَخَاوَةٍ نَفْسُ بُورِكَ لَهُفِيهِ وَمَنْ اَخَذَهُ بِاءشْرَافِ نَفْسِ لَمْ يُبَارِكْ لَهُ فِيهِ كَاالَّذِي يَاءْكُلُ وَلَأ يَشْبُعُ .......
Dari Hakim bin Hizam RA berkata: Saya pernah meminta Rasulullah maka beliau memberiku, maka saya meminta lagi dan beliau memberiku, kemudian saya meminta lagi maka beliau memberiku. Kemudian beliau bersabda: Hai Hakim! Harta itu hijau, sedap dipandang mata dan manis. Barang siapa mengambilnya denga hati pemurah, Allah akan memberinya berkah. Dan barang siapa mengambilnya dengan hati loba dan tamak, tidak akan diperoleh berkah dari harta tersebut seperti orang yang makan tidak pernah kenyang……( HR. Bukhari)[4]


3.3. Syukur Sebagai Solusi Tamak, Iri Hati dan Berbangga Diri
Kesehatan, kekayaan, derajat atau kedudukan merupakan nikmat atau karunia yang diberikan Allah kepada manusia. Tentu saja jika hal tersebut tidak dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya akan menghasilkan kesia-siaan. Karena itu harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, dijadikan sarana untuk menempuh jalan keridhaan Allah SWT.Dengan mempergunakan nikmat Allah untuk kepentingan orang banyak termasuk realisasi dari syukur.[5]
Sementara bagi Muhammad Abduh, karunia agung yang diberikan Allah kepada manusia adalah adanya akal.Dengan akalnya manusia membedakan diri dari binatang.Dengan menggunakan akal pikir untuk bertafakur kepada Allah merupakan manifestasi dari syukur. Menggunakan akal yang benar akan meningkatkan derajat manusia tersebut.[6]
Jika kita tengok dalam al-Qur’an, banyak ayat yang berbicara tentang syukur. Dalam surat Ibrahim, Allah menjanjikan akan menambahkan nikmat hambanya yang senantiasa bersyukur.


Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS: Ibrahim;7)
Dalam ayat lain disebutkan bahwa segala nikmat di dunia ini merupakan karunia Allah yang diperuntukkan untuk manusia. Harapan yang ingin disampaikan adalah supaya manusia senantiasa bersyukur.

Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya” (QS Al-Qashash: 73)

Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakan binatang ternak untuk mereka yaitu sebahagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan kekuasaan Kami sendiri, lalu mereka menguasainya? Dan Kami tundukkan binatang-binatang itu untuk mereka; maka sebahagiannya menjadi tunggangan mereka dan sebahagiannya mereka makan.Dan mereka memperoleh padanya manfaat-manfaat dan minuman.Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?” (QS Yasiin: 71-73)
Dalam surat Yasiin diatas sangat jelas bahwa Allah mempertanyakan sikap manusia yang enggan untuk bersyukur padahal segala bentuk karunia yang diberikan Allah adalah untuk kepentingan manusia tersebut. Meskipun dalam surat lain Allah menyatakan bahwa Allah tidak membutuhkan syukur manusia melainkan untuk kebaikan diri sendiri.




Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip." Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia." (QS: An-Naml; 40)
Namun setidaknya dengan bersyukur, manusia akan mendapatkan ketentraman dalam hati. Dengan demikian, tidak akan ada rasa pongah, sombong, ujub, berbangga diridan iri hati, sebab semua anugrah yang ada di dunia ini merupakan milik Allah. Manusia hanya mendapatkan bagian kecil dari karunia Allah yang tak terhingga.







BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Qarun merupakan simbul sosok keserakahan yang dikisahkan dalam Al-Qur’an.Keserakahan terhadap harta benda menutup kebenaran dalam diri Qarun.Ia yang sebelumnya merupakan pribadi yang shaleh, menjadi individu yang congkak, kikir dan angkuh setelah Allah menganugerahkan rezeki yang melimpah. Tertutupnya kebenaran dalam diri Qarun menyebabkan murka Allah dengan menenggelamkan dirinya serta harta bendanya dalam perut bumi.
Dalam kehidupan modern ini, sifat-sifat Qarun ternyata juga menjangkiti sebagian manusia yang tidak memiliki keteguhan iman. Keinginan materi yang melimpah diusahan dengan berbagai cara meskipun harus bertentangan dengan norma agama maupun nilai-nilai kesusilaan.
Untuk membentengi diri dari sifat-sifat Qarunisme, kita harus senantiasa berpegang teguh dengan firman Allah dan juga sabda rasulullah. Jika hal tersebut mampu diimplikasikan dalam kehidupan ini, maka jaminan kebahagiaan dunia dan akhirat akan bisa diraih.
3.2. Kritik dan Saran
Penulis menyadari jika makalah ini masih jauh dari sempurna. Karena itu, penulis membuka diri untuk menerima saran dan kritik yang membangun untuk perbaikan ke depan.


Daftar Pustaka
Abduh, Muhammad. Risalah Tauhid (terj). Jakarta: Bulan Bintang. 1979.
Bin Ibrahim Huwaiti, Sayyid. Syarah Arbain Nawawi. Jakarta: Darul Haq. 2007.
Bukhari, Imam. Shahih Bukhari. Surabaya: Gitamedia Press. 2009.
Departemen Agama. Al-Qur’an dan Terjemah. Bandung: Diponegoro. 2005
Ghazali, Imam. Kimyaus Sa’adah (terj). Yogyakarta: Cakrawala. 2011.
Mahali, Ahmad Mudjab. Membangun Pribadi Muslim. Yogyakarta: Menara Kudus. 2005.


[1]Sayyid bin Ibrahim Huwaiti. Syarah Arbain Nawawi. Jakarta: Darul Haq. Hlm. Ix.
[3] Imam Ghazali. Kimyaus Sa’adah (terj). Yogyakarta: Cakrawala. 2011. Hlm. 53.
[4] Imam Bukhari. Shahih Bukhari. Surabaya: Gitamedia Press. 2009. Hlm. 336.

[5] Ahmad Mudjab Mahali. Membangun Pribadi Muslim. Yogyakarta: Menara Kudus. 2005. Hlm. 112
[6] Muhammad Abduh. Risalah Tauhid (terj). Jakarta: Bulan Bintang. 1979. Hlm.135 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar