2013/01/08

ANALISA AYAT DAN HADIST TENTANG KEBAIKAN



BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kata “ baik “ merupakan kata yang sangat subjektif. Setiap orang, ingin dikatakan baik, sekalipun sebenarnya ia tidak baik. Kita juga sering memberikan penilaian kepada orang lain baik dan tidak baik hanya sekedar dhahir yang kita pahami. Memang benar sangat sulit untuk menjatuhkan penilaian moral terhadap orang lain, yang dapat kita nilai adalah sikap lahiriah saja.
Kita boleh saja mengatakan bahwa tidakan atau kelakuan tertentu kita anggap salah atau buruk dan menegur orang yang melakukannya. Tetapi kita tidak berhak untuk menarik kesimpulan bahwa orang itu sendiri buruk. Barangkali ia salah perhitungan atau memang sebenarnya memiliki maksud yang baik.
Berkaitan dengan persoalan keagamaan, kita juga tidak pernah dapat mengatakan bahwa orang lain berdosa. Yang dapat kita katakan adalah bahwa kelakuan seseorang tidak sesuai dengan apa yang menurut hemat kita seperti dituntut Tuhan. Bisa jadi orang tersebut berbuat keliru karena bingung, kurang pintar atau salah tafsir.
Oleh karena itu, kebaikan yang hakiki hanya Allah sematalah yang berhak menilainya. Manusia hanya dapat mengamati indikasi-indikasi kebaikan dari segi luarnya saja, tanpa bisa menjustifikasi lebih jauh.
Lantas kebaikan menurut Al-Qur’an dan hadist sendiri bagaimana? Apakah cukup melihat dhahirnya saja, orang sudah bisa dikatakan sebagai orang baik atau justru sebaliknya?. Karena itu dalam makalah sederhana ini, penulis ingin mencoba untuk membahas tentang kebaikan dilihat dari sisi Al-Qur’an dan hadist.
1.2. Rumusan Masalah
1.    Apa pengertian kebaikan?
2.    Bagaimana konsep Al-Qur’an tentang kebaikan?
3.    Apakah kebaikan sama dengan akhlak terpuji?
1.3. Tujuan
          Selain sebagai bagian tugas dari matakuliah materi Al-Qur’an Hadist SLTA, makalah ini bertujuan untuk:
1.    Mengetahui pengertian kebaikan
2.    Mengetahui konsep Al-Qur’an tentang kebaikan
3.    Mengetahui  hubungan kebaikan dengan akhlak terpuji



BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Baik
Dari segi bahasa baik atau kebaikan adalah terjemahan dari kata khoir, al-birr, al ma’ruf ( dalam bahasa arab ),  good ( dalam bahasa Inggris ). Dikatakan bahwa yang disebut baik adalah sesuatu yang menimbulkan rasa keharuan dan kepuasan, kesenangan, persesuaian.
Al-birr  menurut Al-Isfahani, adalah pecahan dari al-barr yang memiliki arti al-tawassu' fi al-khair (kelapangan dalam mengerjakan kebaikan). Dengan demikian, kata al-birr mencakup dua arti. Pertama, pekerjaan hati seperti keyakinan serta niat yang suci. Kedua, pekerjaan anggota badan seperti ibadah kepada Allah dan berinfaq. 
Al-ma’ruf  berarti suatu yang dikenali baik (kebaikan). Banyak yang mengartikan bahwa al-ma’ruf adalah perbuatan baik yang dilakukan oleh umat muslim, seperti bersedekah, beribadah, beramal dan sebagainya. 
Sementara Al-khayr  mempunyai arti kebaikan. Lebih tepatnya perbuatan baik. Perbuatan yang selalu mendatangkan berkah dan kesenangan bagi orang yang sedang membutuhkan dan bertujuan untuk mendapatkan rahmat dan ridho Allah SWT.[1]
Sedang ‘baik’ menurut Ethik adalah sesuatu yang berharga untuk tujuan. Sebaiknya yang tidak berharga, tidak berguna untuk tujuan apabila yang merugikan, atau yang mengakibatkan tidak tercapainya tujuan adalah buruk dan yang disebut baik dapat pula berarti sesuatu yang mendatangkan memberikan perasaan senang atau bahagia.[2]
Dengan demikian bahwa secara umum yang disebut baik atau kebaikan adalah sesuatu yang diinginkan, yang diusahakan dan menjadi tujuan manusia. Walaupun tujuan orang atau golongan di dunia ini berbeda-beda, sesungguhnya pada akhirnya semuaya mempunyai tujuan yang sama sebagai tujuan akhir tiap-tiap sesuatu.
Mengetahui sesuatu yang baik akan mempermudah dalam mengetahui yang buruk yang diartikan sesuatu yang tidak baik. Dengan demikian yang dikatakan buruk itu adalah sesuatu yang dinilai sebaliknya dari yang tidak baik, dan tidak disukai kehadirannya oleh manusia.
2.2. Konsep Al-Qur’an tentang Kebaikan
Berkenaan dengan konsep “kebaikan” dalam Al-Qur’an penulis mencoba menyadur dari tulisan Drs. Enoh, M. Ag yang dipublikasikan dalam jurnal Mimbar dengan judul ‘Konsep baik (kebaikan) dan buruk (keburukan) dalam Al-Qur’an’.  
Dalam tulisan tersebut disebutkan bahwa kata ‘baik’ dalam Al-Qur’an memiliki sinonim yang banyak dan istilah-istilah tersebut memiliki maksud-maksud tersendiri yang juga merujuk pada arti kebaikan. Diantaranya adalah;
1. Al-husnu atau Al-Hasanah merupakan gambaran segala sesuatu yang menyenangkan dan disukai, baik berdasarkan pandangan akal, hawa, atau dari segi pandangan secara fisik. Penggunaan kata al-husnu, di dalam Alquran, adalah juga untuk segala sesuatu yang dipandang baik berdasarkan bashirah (hati nurani),



“Mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal” (QS. Azzumar : 18)

2. Al-ihsan yaitu mengamalkan kebaikan yang diketahuinya yang sifatnya lebih umum daripada memberikan kenikmatan. Inilah istilah yang tepat untuk digunakan kebaikan akhlak manusia. Dengan istilah ini, maka dalam peristilahan ini perilaku manusia menggambarkan kualitas diri yang melakukan perbuatan sesuai dengan pikirannya dan memberi manfaat kepada orang lain. Alquran menegaskan bahwa perbuatan baik akan kembali kepada dirinya





“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai”

3. al-khair adalah kebaikan berupa kenikmatan dunia yaitu yang terbaik dari segala sesuatu. Abu Ishak menyebutnya bahwa pada dirinya terdapat kebaikan akhlak dan
bagus rupa. Kata al-khairah dinisbatkan kepada wanita yang mulia, yaitu yang berketurunan mulia, bagus rupa bagus akhlak, dan banyak hartanya sehingga jika melahirkan akan memberikan kesenangan /menyenangkan. Al-khair adalah segala sesuatu yang disukai, seperti akal, adil, utama, dan sesuatu yang bermanfaat. Kebaikan berdasarkan kata ini dibagi dua, yaitu kebaikan mutlaq dan kebaikan muqayyad. Kebaikan mutlak adalah kebaikan yang disenangi pada setiap keadaan dan siapa pun, seperti syurga. Sedangkan kebaikan muqayyad adalah kebaikan yang mungkin baik bagi seseorang dan dalam keadaan tertentu, tetapi tidak bagi yang lainnya atau dalam keadaan lainnya.




“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” ( QS. Al-Baqarah: 148)


“Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh” (QS: Al-Imran : 144)
Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa konsep kebaikan dalam term alkhairr, memiliki kecenderungan dalam menggambarkan kebaikan dan keburukan yang berdimensi sosial. Kebaikan dan keburukan berdasarkan istilah ini lebih menggambarkan kebaikan dan keburukan yang tidak mudah diketahui oleh masyarakat banyak, melainkan hanya oleh orang-orang tertentu. Dengan demikian wajar bila Alquran mengisyaratkan bahwa untuk sampai pada al-khair mesti diajak bukan diperintahkan

4. al-ma’ruf menunjukan kecenderungan kepada kebaikan yang berhubungan dengan ketaatan dan ketundukan manusia kepada Allah. Secara konstektual penggunaan kata al-ma’ruf dalam Alquran senantiasa berhubungan dengan persoalan dan ketentuan yang digariskan Allah secara syar’i. Oleh sebab itu dapat dimaklumi bila Al-Suyuthi menegaskan bahwa al-ma’ruf dan al-munkar bersifat syar’iyah




“Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma'ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa”.

5. al-mashlahah dan almafsadah lebih cenderung kepada gambaran kebaikan yang berhubungan dengan kebaikan-keburukan alam dan lingkungan secara umum dan menunjukkan kebaikan bersifat amaliyah. Keterangan ke arah tersebut dapat dilihat dari larangan berbuat kerusakan di bumi, baik secara fisik maupun pada tatanan kehidupan secara umum. Para mufasir, disamping memaknai amal shalih dengan sejumlah ketaatan, juga menjelaskan bagaimana peperangan, permusuhan, dan lainnya sebagai hal yang merusak tatanan kehidupan sehingga dikategorikan sebagai perbuatan merusak al-mafsadah di muka bumi dan harus dicegah demi kemaslahatan.

6. al-birr, merupakan kebaikan yang hakiki dan menggambarkan integrasi akal, perasaan, sekaligus tuntunan syara dalam menentukan baik buruk, sehingga mencakup sekaligus mengintegralkan seluruh kebaikan dari berbagai dimensi[3].









“ Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa” (QS: Al-Baqarah: 177)

2.3. Kebaikan adalah Akhlak Terpuji
Akhlak mulia yang digambarkan alquran memberi petunjuk tentang sikap dan sifat ketundukan manusia kepada seruan Tuhan yang diperkuat dengan kemampuan akalnya. Dengan kata lain kebaikan akhlak adalah kebaikan yang disandarkan kepada pentunjuk syara’ dan akal sehat manusia sekaligus.
Ibnu Miskawih menyatakan bahwa kebaikan manusia terletak pada “berfikir” Menurut beliau kebahagian hanya akan terjadi jika terlahir tingkah laku yang sempurna yang khas bagi alamnya sendiri, dan bahwa manusia akan bahagia. Jika timbul dari dirinya seluruh tingkah laku yang tepat berdasarkan pemikiran. Oleh karena itu kebahagian manusia bertingkat–tingkat dengan jenis pemikiran dan yang dipikirkanya.[4]
Dalam kehidupan manusia terdapat kewajiban berbuat baik dan menghindari perbuatan jelek/buruk yang bersifat universal dan merupakan keharusan moral, berdasarkan kodrati kemanusiaan. Berdasarkan itu manusia mengerti segala kewajibannya sebagai perintah Tuhan. Itulah sebetulnya bukti tentang adanya Tuhan, dan bukti itu adalah bukti yang praktis.
Jika kebaikan merupakan dikategorikan sebagai sebuah akhlak, Al-Ghazali mengklasifikasikan dalam tiga dimensi, yaitu: dimensi diri, yakni orang dengan dirinya dan Tuhannya seperti ibadah dan shalat; dimensi sosial, yakni masyarakat, pemerintah dan pergaulannya dengan sesamanya; dan dimensi metafisis, yakni aqidah dan pegangan dasarnya. Hal ini sejalan dengan kebaikan yang difirmankan Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 177 di atas.
Ayat di atas menerangkan bahwa kebaikan adalah, beriman kepada Allah, beriman kepada hari kemudian, beriman tentang adanya malaikat-malaikat, beriman bahwa Allah telah menurunkan kitab-kitab kepada rasul-rasul yang diutus-Nya, beriman kepada nabi-nabi, mendermakan sebagian harta kepada pihak-pihak yang diarahkan Allah, memerdekakan hamba sahaya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, menepati janji dan sabar.
Tentunya jika kita melihat ayat tersebut, maka secara gamblang kebaikan adalah sebuah akhlak sesuai dengan yang diklasifikasi oleh Al-Ghazali. Beriman kepada Allah. Malaikat, kitab, hari akhir dan para rasul mewakili dari dimensi metafisis, yakni aqidah atau keyakinan. Sedang mendermakan sebagian harta dan memerdekakan hamba sahaya adalah contoh dari dimensi sosial. Sementara dimensi diri yang memiliki hubungan vertikal ditunjukkan dengan perintah shalat dan zakat.
Berkaitan dengan kebaikan yang termasuk dalam akhlak yang terpuji, Nabi Muhammad SAW memiliki definisi tersendiri, sebagaimana dalam hadis yang diriwayatkan oleh Nawas bin Sam’an:
قال: البر حسن الخلق والاثم ما حالك في نفسك وكرهت ان يطلع عليه الناس
“Nabi bersabda: Kebajikan adalah akhlak yang baik dan dosa adalah apa yang membimbangkan dalam hatimu dan kamu tidak suka orang-orang melihatnya.
          Hadis lain yang diceritakan oleh Wabisoh bin Ma’bad ketika menghadap Rasullulah.
فال : جئت تسأل عن البر ؟ قلت نعم, فقال : استفت قلبك  , البر ما لطمأنت اليه النفس وا لطمأن اليه القلب والاثم ما حاك فى النفس وتردد فى الصدر وان افتاك الناس وافتوك
“ Nabi bertanya: Apakah kamu datang untuk bertanya tentang kebajikan? Aku menjawab: iya. Kemudian beliau bersabda: Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebajikan adalah apa yang hatimu merasa tentram kepadanya. Sedangkan dosa adalah apa yang membimbangkan dalam jiwa dan meragukan dalam hati, meskipun orang-orang memberi fatwa kepadamu”[5]
Menurut Ibnu Utsaimin Al-birr ialah kata yang menunjukkan makna kebajikan dan banyak kebajikan. Menurutnya, akhlak yang baik artinya manusia itu luas hati, lapang dada, berhati tenang, bermuamalah dengan baik.[6]
Dalam hadist diatas, disebutkan bahwa takaran kebaikan dan keburukan adalah hati. Perbuatan yang baik akan berimbas pada ketenangan hati, dan kepuasan jiwa. Sementara keburukan atau dosa menyebabkan kegelisahan, kebimbangan dan perasaan bersalah.
Jika demikian, maka sepantasnyalah kita sebagai seorang Muslim untuk senantiasa berbuat baik. Dengan perbuatan baik akan mendorong pada kedamaian dan ketentraman. Tentunya hal inilah yang akan selalu mengarahkan pada gairah positif, dalam pengertian memiliki etos kerja yang tinggi dalam menghadapi kehidupan.

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Al-Qur’an memiliki banyak kajian teori tentang kebaikan. Konsep kebaikan dalam Al-Qur’an dapat dimaknai dengan al-husnu, al-ihsan, al-ma’ruf, al-maslahah, al-khair, al-birr dan masih beberapa konsep lagi tentang kebaikan. 
Kebaikan berdasarkan akhlak adalah kebaikan yang disandarkan kepada pentunjuk syara’ dan akal sehat manusia sekaligus. kebaikan manusia terletak pada “berfikir”. Kebahagian hanya akan terjadi jika terlahir tingkah laku yang sempurna yang khas bagi alamnya sendiri, dan bahwa manusia akan bahagia ketika timbul dari dirinya seluruh tingkah laku yang tepat berdasarkan pemikiran.
Kebaikan dirumuskan dalam beberapa dimensi yakni dimensi yang berkaitan dengan hablum minallah dan hablum minan nass. Kebaikan menurut Al-Qur’an, dalam konsep al-birr, adalah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan.

3.2. Saran
          Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Karena itu penulis mengharap masukan dan saran yang membangun guna sempurnanya makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA
Enoh. Konsep Baik dan Buruk dalam Al-Qur’an. Mimbar Vol. 23. No. 1. 2007.
Ibrahim Huwaiti, Sayyid. Sarah Arbain Nawawi. Jakarta: Darul Haq. 2006.
Magnis, Suseno Frans. Etika Dasar; Masalah-masalah pokok filsafat moral. Yogyakarta: Kanisius. 1987.
Mahali, Ahmad Mudjab. Membangun Pribadi Muslim. Yogyakarta: Menara Kudus. 2005.
Miskawin, Ibnu,  Menuju Kesempurnaan Akhlaq,  Bandung: Mizan. 1999.


[2] Frans Magnis Suseno. Etika Dasa. Yogyakarta: Kanisius. 1987. hlm. 59
[3] Enoh. Konsep Baik dan Buruk dalam Al-Qur’an. Mimbar Vol. 23. No. 1. 2007.
[4] Ibnu Miskawin, Menuju Kesempurnaan Akhlaq,  Bandung: Mizan. 1999. Hal. 42
[5] Sayyid Ibrahim Huwaiti. Sarah Arbain Nawawi. Jakarta: Darul Haq. 2006. Hal. 253
[6] Ibid. hal. 258

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar