2012/12/28

KEPEMIMPINAN MANAJEMEN PENDIDIKAN


BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Setiap organisani pasti memiliki sebuah tujuan yang akan dicapai. Karena itu disusunlah berbagai visi dan misi yang bertujuan untuk meraih goal tersebut. Selain visi misi, organisasi juga meyusun serangkaian regulasi yang mengatur jalannya roda organisasi. Dengan regulasi yang dibuat akan memudahkan komponen organisasi untuk menuju tujuan utama. Namun untuk menjalankan semua aturan yang dibuat diperlukan seorang manajer yang mampu mengatur jalannya roda organisasi. Seorang manajer itulah yang kerap kita sebut dengan pemimpin. Dalam dunia pendidikan, pengendali semua kebijakan dilakukan oleh seorang kepala sekolah. Jalan atau tidaknya organisasi lembaga pendidikan tersebut lebih banyak ditentukan oleh kuat atau tidaknya kepemimpinan seorang kepala sekolah. Meskipun pada prinsipnya semua yang berada dalam lingkungan pendidikan juga merupakan seorang pemimpin.
Atas dasar inilah, penulis mencoba untuk mengupas sedikit tentang pengertian kepemimpinan, teori kepemimpinan dan karakteristik kepemimpinan. Setidaknya dengan mengetahui karakter kepemimpinan, kita bisa menyesuaikan dengan model-model seorang pemimpin dan dapat bekerjasama untuk mencapai tujuan organisasi.
1.2. Ruang Lingkup Makalah
1.      Bagaimanakah pengertian kepemimpinan?
2.      Bagaimana teori-teori kepemimpinan?
3.      Bagaimana tipe kepemimpinan?
4.      Bagaimana kepemimpinan dalam manajemen pendidikan?
1.3. Tujuan Makalah
1.      Untuk mengetahui pengertian kepemimpinan
2.      Untuk mengetahui tentang teori-teori kepemimpinan
3.      Untuk mengetahui tipe kepemimpinan
4.      Untuk mengetahui tentang kepemimpinan dalam manajemen pendidikan

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Kepemimpinan
T Hani Handoko mengartikan kepemimpinan sebagai kemampuan yang dipunyai seseorang untuk memepengaruhi orang-orang lain agar bekerja mencapai tujuan dan sasaran..[1] Sementara Soewarno Handoyo Ningrat menyebut kepemimpinan sebagai suatu proses dimana pimpinan digambarkan akan memberi perintah atau pengarahan, bimbingan atau mempengaruhi pekerjaan orang lain dalam memilih dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan.[2]
Sedang John Pfiffner, sebagaimana dikutip oleh Thalib Kasan, mendefinisikan kepemimpinan sebagai the art of coordinating and motivating individual and group to achieve to desert end, yang artinya bahwa kepemimpinan adalah seni untuk mengkoordinasi dan memotivasi terhadap individu atau kelompok untuk mencapai tujuan yang diinginkan.[3]
Dari pendapat-pendapat tersebut penulis menarik kesimpulan bahwa kepemimpinan merupakan proses mempengaruhi kegiatan-kegiatan seseorang atau kelompok dalam usahanya mencapai tujuan didalam situasi tertentu. Sementara seorang pemimpin adalah orang yang mampu mempengaruhi atau menggerakkan seseorang untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai.
Dari pengertian tersebut, dapat ditarik garis bahwa kepemimpinan atau leadership mengandung tiga pengertian pokok, yaitu:
Pertama, kepemimpinan menyangkut orang lain sebagai bawahan atau pengikut yang siap menerima arahan. Tanpa bawahan, semua kualitas seorang manajer tidak relevan.
Kedua, kepemimpinan berkaitan dengan pembagian kekuasaan yang tidak seimbang antara seorang pemimpin dengan anggota kelompok. Pemimpin memiliki kewenangan mengarahkan anggotanya, sedang anggota tidak punya hak mengarahkan pemimpin secara langsung.
Ketiga, kepemimpinan berkaitan dengan  pengaruh. Seorang pemimpin tidak hanya memiliki kekuasaan untuk memerintah saja, namun juga dituntut untuk bisa mempengaruhi bawahanny. Sehingga dengan pengaruhnya, semua tujuan mudah tercapai.[4] 

Kepemimpinan merupakan inti dari manajemen, karena itu kepemimpinan selalu menduduki posisi sentral dalam sebuah manajemen. Bahkan dalam pandangan tradisional seorang pemimpin dianggap sebagai dewa atau keturunan dewa.
Bagaimana seorang itu bisa menjadi seorang pemimpin yang handal? Para penelitipun t
A. Teori Sifat
Teori ini bertolak dari dasar pemikiran bahwa keberhasilan seorang pemimpin  ditentukan oleh sifat-sifat, perangai atau ciri-ciri yang dimiliki oleh pemimpin itu. Sifat-sifat itu berupa sifat fisik dan psikologis. Atas dasar pemikiran tersebut timbul anggapan bahwa untuk menjadi pemimpin yang berhasil ditentukan oleh kemampuan pribadi, yang dimaksudkan adalah kualitas seseorang dengan berbagai sifat perangai atau ciri-ciri didalamnya. Oleh karena itu para ahli berusaha untuk merinci  lebih jauh kualitas seorang pemimpin yang berhasil dalam melaksanakan tugas-tugas kepemimpinan kemudian hasil-hasil tersebut dirumuskan kedalam sifat-sifat umum seorang pemimpin. Usaha tersebut akhirnya melahirkan dan berkembang menjadi teori kepemimpinan atau traits theory of leadership. Berkaitan dengan teori kepemimpinan model ini, maka kemampuan pemimpin diantaranya ditentukan oleh :
1.  Kecerdasan 
Kepemimpin mempunyai tingkat kecerdasan  yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang dipimpin
2.  Kedewasaan dan Keleluasaan Hubungan Sosial.
Kepemimpin cenderung menjadi matang dan mempunyai emosi yang stabil, serta mempunyai perhatian yang luas terhadap aktifitas-aktifitas sosial.
3.  Motivasi Diri dan Dorongan Prestasi
Para pemimpin secara relatif mempunyai dorongan motivasi yang kuat untuk berprestasi. Mereka berusaha mendapatkan penghargaan yang intrinsik dibandingkan dari yang ekstinsik.
B. Teori Kelompok atau Teori Perilaku
Teori kelompok ini beranggapan bahwa untuk bisa mencapai tujuan-tujuannya, maka harus terdapat suatu pertukaran yang positif diantara pemimpin dan pengikut-pengikutnya. Kepemimpinan yang ditekankan pada adanya suatu proses pertukaran antara pemimpin dan pengikut-pengikutnya, melibatkan pula konsep-konsep sosiologi tentang keinginan-keinginan pengembangan perhatian. Pemimpin yang memperhitungkan dan membantu pengikut-pengikutnya mempunyai pengaruh yang positif terhadap sikap, kepuasan dan pelaksanaan kerja. Dengan perkataan lain bahwa para bawahan dapat mempengaruhi pemimpin dengan perilakunya. Perilaku pemimpin akan bisa menjadi faktor motivasi terhadap para bawahan.
Teori ini memandang kepemimpinan sebagai suatu proses melalui orang lain yang dipengaruhi oleh pemimpin tersebut untuk mencapai tujuannya. Dengan demikian, elemen kepemimpinan adalah: perilaku pemimpin, perilaku pengikut, dan situasi lingkungan. 
C. Teori Tiga Dimensi
Teori ini dikemukakan oleh WJ. Reddin, yang menyatakan bahwa perilaku kepemimpinan memiliki tiga pola dasar yaitu, berorientasi pada tugas, berorientasi pada hubungan kerja dan berorientasi pada hasil atau efektivitas. Dari ketiga pola kepemimpinan tersebut menghasilkan gaya pemimpin yang birokratis, kompromis, minorities, otokratis dan ekskutif.
D. Teori Situasional
Teori ini berpendapat bahwa gaya kepemimpinan yang paling efektif adalah kepemimpinan yang disesuaikan dengan tingkat kemampuan bawahan. Ini berarti bahwa gaya kepemimpinan seseorang cenderung mengikuti situasi tertentu. Dengan memperhatikan lingkungan kerja atau kepemimpinan bawahan, seorang pemimpin dapat menentukan gaya kepemimpinan sesuai dengan situasi yang dibutuhkan.  

2.3. Tipe Pemimpin
Meskipun belum terdapat kesepakatan yang bulat tentang tipologi kepemimpinan, namun ada enam tipe kepemimpinan yang diakui secara luas. Enam tipologi ini adalah:
1.      Tipe pemimpin otokratis
2.      Tipe pemimpin militeristis
3.      Tipe pemimpin paternalistis
4.      Tipe pemimpin karismatik
5.      Tipe pemimpin laissez faire
6.      Tipe pemimpin demokratis[5]
A. Pemimpin Otokratis
Kepemimpinan ini dasar keyakinannya adalah bahwa kepemimpinan dimiliki oleh pemimpin karena ia memiliki wewenang tersebut. Tipe kepemimpinan model ini kerap digunakan perintah-perinntah yang juga disertai dengan sanksi-sanksi jika terjadi hal-hal yang menyimpang dari perintahnya.

Ciri-ciri pemimpin yang otokratis adalah:
1.      Seolah-olah organisasi yang dipimpinnya adalah miliknya sendiri.
2.      Tujuan organisasi diindektikan dengan tujuan pribadi
3.      Bawahan dianggap sebagai alat semata
4.      Biasanya sulit menerima kritik, saran atau pendapat dari bawahannya
5.      Sering menggunakan pendekatan yang bersifat formal dan bersifat paksaan
B. Pemimpin Militeristik
Seorang pemimpin bersifat militeristik, jika model kepemimpinannya memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1.      Dalam menggerakkan bawahannya lebih ditekankan pada sistem komando atau perintah yang berdasarkan tinggi rendah jabatan atau pangkat dari seorang pemimpin.
2.      Senang kepada formalitas yang berlebihan
3.      Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan
4.      Sulit menerima kritik, saran dan pendapat dari bawahan
5.      Menggemari upacara-upacara untuk berbagai acara dan keadaan
C. Pemimpin Paternalistik
Kepemimpinan paternalistik memiliki suatau pengaruh kebapakan antara pimpinan dengan kelompoknya. Tujuannya adalah melindungi dan memperhatikan kesejahteraan pengikut pengikutnya. Ciri-ciri pemimpin bertipikal ini adalah:
1.      Menganggap bawahan tidak dewasa
2.      Sikap overprotektif terhadap bawahan
3.      Jarang memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengambil keputusan dan inisiatif.
4.      Menganggap dirinya paling tahu segalanya.  
D. Pemimpin Kharismatik
Tipe kepemimpinan ini mempunyai daya tarik tersendiri yang sangat berpengaruh terhadap bawahannya. Pemimpin bertipikal kharismatik memiliki pengikut relatif banyak. Pemimpin kharismatik memiliki kewibawaan yang dibawanya sejak lahir. Pemimpin seperti ini sangat dihormati dan disegani karena kewibawaannya. Biasanya pemimpin seperti ini memiliki kekuatan gaib (supranatural power).


E. Pemimpin Laissez Faire
Ciri-ciri pemimpin bertipe ini adalah:
1.      Pemimpin memiliki sifat permisif, yakni para anggota organisasi boleh saja bertindak sesuai dengan keyakinan dan hati nuraninya asal kepentingan bersama tetap terjaga dan tujuan organisasi tetap tercapai.
2.      Pemimpin tidak terlalu sering melakukan intervensi dalam kehidupan organisasi.
3.      Pemimpin mengambil peranan pasif dan membiarkan organisasi berjalan dengan sendirinya tanpa banyak campur tangan darinya.
F. Pemimpin Demokrastis
Pemimpin demokratis merupakan tipe kepemimpinan yang paling tepat di era modern ini. Kepemimpinan demokratis ditujukan dengan adanya partisipasi kelompok dalam menentukan tujuan. Diantara ciri-ciri tipe kepemimpinan ini adalah:
1.      Selalu bertitik tolak dari persamaan hak dan kewajiban sebagai manusia
2.      Berusaha menyingkronkan kepentingan dan tujuan organisasi dengan kepentingan dan tujuan pribadi atau bawahan.
3.      Senang menerima saran, pendapat ataupun kritik
4.      Mengutamakan kerja kelompok dalam pencapaian tujuan organisasi
5.      Berusaha memberi kesempatan kepada bawahan untuk lebih berkembang
6.      Membimbing bawahan untuk lebih berkembang dari pada dirinya.

2.4.  Kepemimpinan dalam Manajemen Pendidikan.
Setelah mengetahui pengertian kepemimpinan, teori dan tipikal pemimpin, ada baiknya hal tersebut dijadikan dasar untuk menjadi pemimpin yang baik dalam sebuah lembaga pendidikan.
Kepala sekolah sebagai nahkoda penting dalam mahligai pendidikan harus mampu mengendalikan organisasi tersebut untuk mencapai tujuannya. Pimpinan sekolah inilah yang pada tingkat operasional berada digaris depan untuk mengkoordinasi upaya peningkatan mutu pembelajaran. Pimpinan sekolah atau yang kerap dipanggil kepala sekolah sama halnya dengan seorang manajerial yang berfungsi memaksimumkan pendayagunaan sumberdaya yang ada secara produktif untuk mencapai tujuan yang ditetapkan bagi unit kerjanya. Kepemimpinan pendidikan mengacu apa kualitas tertentu yang harus dimiliki oleh seorang kepala sekolah untuk dapat mengemban tanggung jawabnya secara berhasil. Berkaitan dengan kualitas tersebut, setidaknya ada tiga hal yang harus dimiliki oleh kepala sekolah, yaitu; visi misi, kompetensi dan integritas pribadi. Visi misi merupakan tujuan yang ingin dicapai dan cara mencapai tujuan tersebut. Kompetensi adalah kemampuan yang dimiliki kepala sekolah untuk melaksanakan misi guna tercapainya visi. Sedang integritas pribadi adalah karakter yang menunjukkan ketaatan pada nilai-nilai moral dan etika yang diyakini seseorang membentuk perilakunya sebagai manusia yang berharkat dan bermartabat, seperti bertanggung jawab, amanah, konsisten, memiliki emosi yang terkendali, dan lain-lain. 
Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa kepala sekolah harus memiliki tujuh hal mendasar, yaitu:
1. Filosofi Organisasi
Seorang pemimpin hendaknya mengetahui mengapa organisasi ini ada, dan untuk apa?. Dengan mengetahui filosofi organisasi seorang pemimpin mampu mengarahkan orang-orang lain dalam organisasi itu ke tujuan yang seharusnya.
2. Visi.
Visi adalah tujuan jangka panjang, berkisar antara 10-25 tahun. Karena itu kepemimpinan perlu memiliki pandangan jauh ke depan tentang organisasinya; mereka ingin mengembangkan organisasinya itu menjadi organisasi yang bagaimana?, yang mampu berfungsi apa?, yang mampu memproduksi benda dan jasa apa?, serta untuk dapat disajikan kepada siapa ?
3. Misi
     Pemimpin perlu mengetahui tugas-tugas pokok apakah yang harus dilakukan oleh organisasi agar visi atau kondisi masa depan organisasi tadi dapat diwujudkan,
yakni tentang bagaimana visi itu akan dapat diwujudkan ?
4. Nilai-Nilai (Values)
Pemimpin harus mengetahui Prinsip-prinsip apa yang diyakini sebagai kebenaran yang berfungsi sebagai pedoman dalam menjalankan tugas organisasi tersebut.
Misalnya mutu, fokus pada pelanggan, disiplin, dan kepelayanan.
5. Kebijakan (Policy)
Orang-orang yang memegang kepemimpinan harus mampu merumuskan suatu kebijakan-kebijakan tertentu agar bawahan dapat menyajikan mutu seperti yang diinginkan oleh organisasi dan masyarakat
6. Tujuan-tujuan organisasi
Pemimpin harus memiliki rencana/hal-hal yang perlu dicapai oleh organisasi dalam jangka panjang dan jangka pendek agar memungkinkan orang-orang dalam organisasi memenuhi misinya dan mewujudkan visi mereka.
7. Metodologi
Ialah rumusan tentang cara-cara yang dipilih secara garis besar dalam bertindak menuju pewujudan visi dan pencapaian tujuan-tujuan organisasi. Metodologi ini terbatas pada garis-garis besar yang perlu dilakukan dan bukan detil-detil teknik kerja.[6]
Dalam melaksanakan perannya sebagai pemimpin, kepala sekolah memiliki multifungsi, antara lain:
1. Pemegang Kendali Organisasi
Dalam hal ini kepala sekolah menjadi pemimpin tertinggi yang bertugas merencanakan, menentukan dan sekaligus melaksanakan tujuan organisasi
2. Katalisator
Sebagai katalisator, peran kepala sekolah adalah menjadi penghubung sekolah dengan dunia luar atau lingkungan sekitar. Ia berbicara sebagai juru bicara sekolah dalam memperjuangkan kepentingan sekolah.
3. Integrator
Yakni sebagai orang yang mengintegrasikan sejumlah tugas-tugas pengelolaan sekolah seperti program instruksional, kemuridan, sumber dana dan sumber daya, hubungan sekolah dengan masyarakat.
4. Bapak
Pimpinan sekolah berperan sebagai bapak berarti ia merupakan pimpinan keluarga dalam sekolah. Ia memberikan tuntunan dan bimbingan terhadap lingkungan sekolah. Ia merupakan orang yang dianggap dituakan sehingga diharapkan menjadi teladan yang baik.  
5. Pendidik
Kepala sekolah harus selalu memperhatikan kemajuan para staf dan muridnya. Karena itu, ia harus bisa menjadi seorang yang penuh kasih sayang memperhatikan kebutuhan anggota-anggota sekolahnya. 



BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1.    Kesimpulan
Pemimpin pada hakikatnya adalah seorang yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi perilaku orang lain di dalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan. Dalam kegiatannya bahwa pemimpin memiliki kekuasaan untuk mengerahkan dan mempengaruhi bawahannya sehubungan dengan tugas-tugas yang harus dilaksanakan.
Tipe-tipe kepemimpinan pada umumnya adalah tipe kepemimpinan pribadi, Tipe kepemimpinan non pribadi, tipe kepemimpinan otoriter, tipe kepemimpinan demokratis, tipe kepemimpinan paternalistis, tipe kepemimpinan menurut bakat (kharismati), tipe kepemimpinan militeristik. 

Tugas pemimpin dalam kepemimpinannya meliputi; menyelami kebutuhan-kebutuhan kelompok, dari keinginan itu dapat dipetiknya kehendak-kehendak yang realistis dan yang benar-benar dapat dicapai, meyakinkan kelompoknya mengenai apa-apa yang menjadi kehendak mereka, mana yang realistis dan mana yang sebenarnya merupakan khayalan. Pemimpin yang professional adalah pemimpin yang memahami akan tugas dan kewajibannya, serta dapat menjalin hubungan kerjasama yang baik dengan bawahan, sehingga terciptanya suasana kerja yang membuat bawahan merasa aman, tentram, dan memiliki suatu kebebsan dalam mengembangkan gagasannya dalam rangka tercapai tujuan bersama yang telah ditetapkan.
Kepala sekolah merupakan pemimpin dalam bidang pendidikan memiliki peran sangat banyak yaitu; sebagai pemegang kendali organisasi, katalisator, integrator, bapak, dan pendidik.

3.2.    Saran
Berdasarkan pada uraian tersebut di atas, maka penulis mengemukakan saran-saran sebagai berikut :
1.      Hendaknya para pemimpin, khususnya pemimpin dalam bidang pendidikan dalam melaksanakan aktivitasnya kepemimpinannya berdasarkan pada kriteria-kriteria kepemimpinan yang baik.
2.      Dalam membuat suatu rencana atau manajemen pendidikan hendaknya para pemimpin memahami keadaan para bawahannya, dan dalam pembagian tugas sesuai dengan kemampuannya masing-masing.
3.      Pemimpin hendaknya memahami betul akan tugasnya sebagai seorang pemimpin.
4.      Dalam melaksanakan akvititasnya baik pemimpin ataupun yang dipimpin menjalin suatu hubungan kerjasama yang saling mendukung untuk tercapainya tujuan organisasi atau instnasi.



DAFTAR PUSTAKA


Handoko, T.Hani. Manajemen. Yogyakarta: BPFE. 1986.
HS, Ahmad Fadli. Organisasi dan Administrasi. Jakarta: Manhalun Nasyiin Press. 2011
http://tp11034nawa.blogspot.com/2012/03/manajemen-pendidikan-kepemimpinan.html
Kasan, Tholib, Teori & Aplikasi Administrasi Pendidikan. Jakarta: Studi Pres. 2006.
Ningrat, Soewarno Handoyo. Pengantar Ilmu Studi Administrasi dan Manajemen. Jakarta : CV. Haji Masagung.1980.



[1] T.Hani Handoko. Manajemen. Yogyakarta: BPFE. 1986. hal 294
[2] Soewarno Handoyo Ningrat. Pengantar Ilmu Studi Administrasi dan Manajemen. Jakarta : CV. Haji Masagung.1980. hal. 64
[3] Tholib Kasan, Teori & Aplikasi Administrasi Pendidikan. Jakarta: Studi Pres. 2006.hal. 136
[4] Ibid., hal.137
[5] Ahmad Fadli HS. Organisasi dan Administrasi. Jakarta: Manhalun Nasyiin Press. 2011. hal. 19.
[6] http://tp11034nawa.blogspot.com/2012/03/manajemen-pendidikan-kepemimpinan.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar